Cyber-bullying adalah bentuk lain dari bullying, sebuah perilaku agresif yang secara sengaja dilakukan kepada para korban yang dinilai sulit untuk melindungi dirinya sendiri secara berulang-ulang pada jangka waktu yang cukup panjang (Olweus, 1993). Bedanya, cyber-bullying dilakukan pada ruang dunia maya seperti internet atau aplikasi chat di handphone-mu. Cyber-bullying memiliki berbagai bentuk, dari pesan tidak mengenakan yang dikirim melalui chatroom, penyebaran rumor negatif tentang dirimu di media sosial, telefon tidak dikenal yang mengancam dirimu, atau bahkan penyebaran gambar/foto/video yang memalukan dirimu. Begitu-begitu, pelaku Cyber-bullying juga merupakan orang yang terbilang kreatif dalam melancarkan aksinya.
Cyber-bullying menjadi berbahaya karena banyaknya akses yang dimiliki oleh orang lain terhadap dirimu. Mudahnya akses internet dengan bantuan gadget dan aplikasi media sosial membuat pelaku menjadi semakin mudah untuk memiliki bahan untuk mem-bully seseorang. Sebagai contohnya, coba saja lihat comment section dari post selebgram seperti Awkarin. Ia harus menghadapi berbagai komentar pedas mengenai dirinya setiap hari di media sosial yang ia miliki. Menjadi selebriti yang berada pada spotlight dari publik juga datang dengan konsekuensinya sendiri, bukan hanya nikmat yang didatangkannya.
Pelaku cyber-bullying juga dilindungi oleh anonimitas yang disediakan oleh internet. Maksudnya, pelaku cyber-bullying dapat melancarkan aksinya tanpa harus khawatir untuk menampakkan mukanya kepada korban. Ia dapat saja membuat fake account atau menyamarkan namanya sendiri dan mengaku menjadi orang lain ketika melancarkan aksinya. Bila bullying biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki badan yang lebih besar atau teman-teman yang lebih banyak dibandingkan korban, cyber-bullying membuat perilaku bullying dapat dilakukan oleh siapa saja dengan akses internet dan niat buruk terhadap seseorang. Bahkan orang-orang yang biasanya berdiam diri di dunia nyata pun dapat menjadi orang lain seutuhnya di dunia maya.
cyber-bullying dapat mengganggu keseharian korbannya. Korban dapat merasakan kesepian (misalnya karena sebuah gambar aib yang beredar tentang dirinya, sehingga orang-orang menjauhi dirinya) atau mengalami kondisi kecemasan yang. Korban cyber-bullying juga berisiko untuk mengalami keinginan bunuh diri. Hal ini menandakan bahwa bullying, dalam bentuk apapun bukanlah hal yang main-main untuk dilakukan.