Transaksi belanja online di dalam negeri pada 2019 mencapai Rp13 triliun setiap bulan, atau Rp140 triliun per tahun. Angka tersebut membuat Indonesia menjadi negara dengan pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Perkembangan pesat e-commerce tidak hanya mengubah pola belanja para konsumen saja, namun juga berimbas pada beberapa bidang industri lainnya.
Momentum positif yang diciptakan oleh e-commerce itu dimanfaatkan oleh bidang lain untuk melahirkan berbagai inovasi baru agar bisa beradaptasi dengan kebutuhan konsumen yang terus berubah secara dinamis. Misalnya :
Salah satu bidang yang terkena imbas dari perkembangan industri e-commerce di Indonesia adalah bidang logistik. Dengan semakin banyak orang yang kini beralih ke belanja online, permintaan pengiriman paket juga meningkat drastis.
Selain logistik, sektor pembayaran digital juga mengalami kenaikan yang signifikan berkat e-commerce. Transaksi uang elektronik mengalami peningkatan sebesar tiga ratus persen dibanding tahun sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh preferensi masyarakat yang kian gemar bertransaksi lewat platform e-commerce dan teknologi finansial (fintech). Ruang tumbuh industri fintech di Indonesia masih sangat luas. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan pesat e-commerce belum terimbangi dengan penetrasi kredit di Indonesia.
Perkembangan industri e-commerce juga berdampak pada industri ritel. Meski persentase belanja online di Indonesia masih relatif kecil, namun kehadirannya telah mengusik kedigdayaan toko-toko ritel, khususnya di Indonesia. Kehadiran e-commerce membuat para pemain ritel harus bertransformasi. Beberapa dari mereka mulai memanfaatkan teknologi dalam kegiatan operasional masing-masing. Bukan berarti perkembangan e-commerce lantas disikapi para pelaku ritel dengan beramai-ramai menutup toko fisik masing-masing. Ada strategi lain yang bisa diterapkan oleh para pelaku ritel, sehingga Anda dapat siap menghadapi disrupsi yang hadir di era digital.