Nilai pasar ekonomi digital Asia Tenggara pada tahun 2025 nanti diprediksi mencapai US$240 miliar (sekitar Rp3,3 kuadriliun). Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara menjadi salah satu kontributor utama, dengan perkiraan kontribusi mencapai hampir 50% gross merchandise value (GMV) ekonomi digital di wilayah ini.
Hingga akhir tahun, para pemimpin pasar startup dengan valuasi terbesar di Indonesia telah berhasil mendapat pendanaan dengan jumlah hampir setara dengan para unicorn asal Singapura. Empat startup pemimpin pasar di Singapura telah mengumpulkan total pendanaan sekitar US$22 miliar (sekitar Rp 308 triliun). Keempat unicorn tersebut adalah Grab, Lazada, Razer, dan Sea. Jumlah tersebut ditandingi oleh total pendanaan sekitar US$20 miliar (sekitar Rp280 triliun) dari keempat unicorn asal Indonesia yang meliputi GO-JEK, Tokopedia, BukaLapak, dan Traveloka.
Semakin banyak investor melihat potensi besar dalam pasar dalam negeri. Indonesia memiliki 133 juta pengguna internet, atau 26 kali lebih banyak dari Singapura. Semua faktor ini ditambah prediksi bahwa jumlah unicorn dari dalam negeri akan bertambah pada tahun 2019 membuat nilai pasar startup di Indonesia sangat mungkin melampaui Singapura dalam beberapa tahun ke depan.
Berbagai investor lokal maupun asing menyatakan ingin melakukan diversifikasi ke bidang selain e-commerce, terutama ke dalam bidang teknologi finansial (fintech) dan kesehatan (healthtech). Ditambah faktor pendukung seperti tingkat penggunaan tinggi dari masyarakat lokal, unicorn asal Indonesia berikutnya diperkirakan akan muncul dari salah satu kategori ini. Total nilai transaksi fintech di Indonesia akan tumbuh lebih dari dua kali lipat dari US$22 miliar (sekitar Rp 308 triliun) pada 2018 menjadi US $54 miliar (sekitar Rp 758 triliun) pada 2025.
Indonesia memiliki angka adopsi fintech relatif tinggi dibanding beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Industri ini telah berkembang secara pesat dalam waktu yang relatif singkat. Startup fintech lending telah menyalurkan dana pinjaman senilai Rp13,8 triliun ke seluruh Indonesia selama 2018, meningkat lebih dari 400 persen dibanding 2017. Ini mendorong berbagai institusi pemerintah, finansial, maupun startup di Indonesia mulai berinvestasi lebih besar dalam bidang fintech dengan mendirikan pundi dana, inkubator, atau mengakuisisi startup fintech.